Jumat, 18 November 2016

WISATA DI ROKAN HULU





WISATA DIROKAN HULU
BY : ERWIN NOGORI
  1. Air Terjun Aek Mertua
Air Terjun Aek Mertua
Air Terjun Aek Martua ini memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri karena memiliki beberapa tingkat, sehingga sering pula disebut Air Terjun Tangga Seribu.  Air terjun ini terletak di kawasan dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan.  Nama Aek Martua ini adalah nama sebuah sungai di mana air terjun ini berada dan berasal dari bahasa suku Mandailing yang artinya adalah Air Bertuah.
  1. Museum Kupu-Kupu
Museum Kupu-Kupu
Museum Kupu – Kupu ini merupakan objek wisata pendidikan yang ada di Rokan Hulu. Pendirian Museum Kupu – Kupu ini ditujukan untuk pendidikan dan penelitian tentang kupu – kupu yang ada di Sekitar Areal Museum dan Seluruh Rokan Hulu. Museum Kupu – Kupu adalah pusat penangkaran kupu-kupu yang diklaim merupakan satu-satunya penangkaran kupu-kupu di Sumatra. Penangkaran ini berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Desa Kaiti, Kecamatan Rambah. Tentunya, dengan adanya penangkaran tersebut, objek wisata ini kian menambah potensi wisata unggulan di bumi seribu suluk (sebutan lain Rohul). Berjarak sekitar sembilan kilometer dari taman kota Pasir Pengaraian, objek wisata diyakini akan mampu meningkat kunjungan wisata ke daerah tersebut. Dengan adanya pusat informasi dan penangkaran kupu-kupu itu, setidaknya Pemerintah Rohul cukup serius dalam mengembangkan objek wisatanya sekaligus melestarikan alam dan lingkungan. Di gedung ini juga terdapat data dinding dalam bentuk visual penelitian mulai sejak tahun 2003.
  1. Cipogas (Bendungan Kaiti)
Cipogas (Bendungan Kaiti)
Bendungan Kaiti terdapat batu-batuan yang besar dengan aliran sungai dari kaki Bukit Haorpit yang terjal dan berbatu, konon dahulu kala tempat petua-petua melakukan semedi/pertapaan. Daerah ini memiliki cerita/dongeng yang dapat kita tanyakan kepada juru kunci daerah ini. Daerah Sipogas dan Bendungan Kaiti dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua sekitar 4 km dari Pasir Pengaraian serta bersimpangan dengan objek Air Panas Hapanasan dan Air Pawan serta Goa Huta Sikafir, disamping itu bendungan yang genangan airnya menjadikan tempat ini cocok untuk berekreasi sambil mendayung kereta air yang dapat disewa kepada pemilik kereta air disekitar danau, kegiatan ini lebih cocok untuk melihat tebing batu-batu sungai sepanjang danau ke hulu sungai Sipogas, di hulu sungai ini tidak jauh berjalan ada tebing yang terjal untuk kegiatan panjat tebing, disini selalu dijadikan kegiatan pertandingan panjat tebing alam yang diselenggarakan oleh FPTI.



  1. Rumah Batu Serombou
Rumah Batu Serombou
Terletak di desa Serombou Indah sekitar 12 km dari jalan propinsi masuk melalui Jl. Simpang Karya Mulya, Langkitin terus melalui Jl. Poros Karya Mukti dengan kondisi jalan dapat dilalui kendaraan roda empat pada musim kemarau. Terdapat 3 batu berbentuk rumah secara radial menonjol keluar seperti payung, bagian bawah menjorok berlobang, hutan dan bebatuan yang berbentuk binatang serta benda-benda rumah yang terlihat tidak jelas dan nyata (Gejala alam yang beraturan). Dikisahkan sebuah dongeng tentang sumpah seorang yang sakti terhadap warga kampung yang durhaka tidak menjalankan syariat Islam hingga satu kampung disumpah menjadi batu. Dekat daerah ini terdapat sebuah kampung yang dahulu terisolir dari modernisasi tempat ini dikenal orang dengan desa Tanjung Botong, dan Sekarang Daerah ini sudah maju.
  1. Makam Raja-Raja Rambah
Makam-Raja-raja-Rambah
Terletak di desa Kumu sekitar 9 km dari pasirpengarayan dan masuk sekitar 100 meter dari jalan propinsi dengan kondisi jalan semenisasi. Daerah ini adalah bekas Kompleks kerajaan Rambah yang terakhir, terdapat beberapa makam Raja Rambah yang terkenal. Masuk ke tempat ini berkesan suasana angker dikarenakan makam-makam telah ditumbuhi kayu-kayu besar, ada salah satu makam raja Rambah yang dilindungi oleh urat-urat kayu ara sehingga makam tersebut seperti terletak di dalam pangkal kayu sehingga para peziarah melihat makam harus merunduk masuk kedalam jalinan urat kayu ara tersebut.
  1. Benteng Tujuh Lapis
benteng-tujuh-lapis
Setelah melihat makam kita bisa langsung melanjutkan dengan kendaraan ke daerah Dalu-dalu Kecamatan Tambusai sekitar 23 km dari makam raja-raja Rambah. Benteng tanah yang dibuat masyarakat dalu-dalu pada zaman penjajahan Belanda atas petuah Tuanku Tambusai di atas bumbun tanah ditanam bambu atau aur berduri. bekas benteng tersebut yang ditinggalkan Tuanku Tambusai pada tanggal 28 Desember 1839. Disekitar daerah dalu-dalu ini juga terdapat beberapa benteng-benteng yang disebut Kubu.
  1. Istana Rokan
istana_rokan_2
(Rumah Tinggi) terletak di desa Rokan IV Koto sekitar 46 km dari Pasir Pengarayan. Istana Rokan adalah peninggalan kesultanan “Nagari Tuo” berumur 200 tahun. Istana dan beberapa rumah penduduk sekitar ini memiliki koleksi ukiran dan bentuk bangunan lama khas melayu (Rumah tinggi).

  1. Taman Nasional Bukit Suligi
Taman Nasional Bukit Suligi
Memiliki jenis flora dan fauna yang dilindungi oleh pemerintah, ada danau yang indah didalam taman ini yang dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat yang berkunjung. Selain berekreasi tempat ini dijadikan tempat penelitian biologi yang membuat tempat ini menarik. Terdapat sumber air panas yang tidak terlalu besar serta goa-goa dan seramnya hutan yang lebat. Bagi para wisatawan yang ingin bermalam ditempat ini disediakan camping ground.
  1. Mesjid Tua Kunto Darussalam
Mesjid Tua Kunto Darussalam
Terletak sekitar 62 km dari Pasirpengarayan yang didirikan pada tahun 1937 oleh R.T. Muhammad Alie dan terdapat 3 makam ahli Suluk (Khalifah) Tengku Imam Khalifah Muda dan Imam Nawawi. Mesjid Tua Kunto Darussalam ini sebagai pusat Tarkat Na’syahbandiyah, dalam perkembangan selanjutnya dibangun “bangunan suluk” pada tahun 1958.
  1. Wisata Air Sungai Rokan Kiri
Wisata Air Sungai Rokan Kiri
 Yang mengalir melintasi kota ujungbatu salah satu potensi untuk wisata air deras, atau wisata petualangan dengan menggunakan boat ke hulu sungai yang deras dengan tebing-tebing sungai yang cadas sekaligus dapat menyaksikan hutan sekunder disepanjang sungai, sambil melihat kehidupan tepi sungai sekitar 1 jam perjalanan kita akan jumpai air terjun hujan lobek di tebing sungai, dihulu sungai ada dua air terjun yang cukup tinggi yaitu air terjun sungai murai dan air terjun sungai tolang.
  1. Sumber Air Panas Pawan
Sumber Air Panas Pawan
Terletak di desa Pawan sekitar 9 km dari Pasirpengarayan. Mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor serta roda dua, uniknya becak jerman pun dapat melayani trayek langsung ke lokasi. Tempat ini sangat diminati oleh wisatawan, dengan keunikan ada dua sumber air panas dari gejala post vulkanis yang masing-masing sumber berbeda panas airnya (Suhu sisi kiri 600oC dengan debit air 7200 ml/dtk, sisi kanan 480-580oC dengan debit air 1800 ml/dtk), yang disalurkan ke beberapa pancuran yang jatuh di tepi sungai kecil yang airnya dingin dan bersih lagi jernih dengan suhu 200-250oC. Tempat ini baik untuk rekreasi kesehatan, sambil bersenang-senang bersama keluarga, yang didukung oleh alam yang asri serta tempat parkir yang luas, tersedia pula Camping Ground.
  1. Air Panas Hapanasan
Air Panas Hapanasan
Tempat wisata ini berjarak jarak 6 Km. dari ibukota Kabupaten Rokan Hulu, Pasir Pengaraian, fasilitas yang dimiliki diantaranya Musholla, lahan parker, toilet, arena permainan anak-anak, kolam renang dan panggung terbuka. Pada tahun 2009 di objek wisata air panas hapanasan ini akan di bangun waterboom, outbond, pusat informasi kupu-kupu dan kelengkapan lainnya.
  1. Goa Huta Sikafir
Goa Huta Sikafir
Berada sekitar 1 km dari sumber air pawan, kita akan menjumpai hutan dengan kayu-kayu besar, yang dililiti oleh urat-urat kayu hawa (Sulur). Didalam kawasan hutan 6 hektar inilah terdapat 41 goa-goa besar dan kecil yang setiap goa memiliki nama yang sesuai dengan kondisi goa, seperti contoh goa landak, goa ini seperti lobang sarang landak, goa tupai seperti parit yang panjang tidak terlalu sempit. Dari sekian banyak goa yang terkenal keindahannya ialah Goa Mata Dewa dan Goa Lepong, serta Goa Kulam. Goa-goa ini cukup membuat anda lelah berpetualang didalamnya bersama pemandu yang telah siap melayani jasa pramuwisata di Huta Sikafir.
  1. Sungai Bungo
Sungai Bungo
Adalah sebuah kampung dikaki bukit Hadiantua dengan penduduk sekitar 30 KK dengan pencaharian penduduk berkebun, berladang, serta meramu hutan. Daerah yang asli perkampungan tanpa pengaruh modernisasi dan terisolir sekitar 1 jam perjalanan dari bendungan Cipogas. Tempat ini cocok dijadikan Ecotourism, dimana segala kegiatan yang memiliki sifat menjauhkan diri dari keramaian dan tidak menuntut fasilitas yang baik, sifat berpetualang dan berkemah dipinggir kampung, serta melihat rutinitas masyarakat.

Jumat, 04 Maret 2016

ADAT PERNIKAHAN ROKAN HULU



Adat Perkawinan di Rokan Hulu

Luhak Rambah :
A. Adat Sumondo Ketemenggungan ; Raja menikah sama derajat (Patriakat), Raja Menikah dengan anak Raja-raja atau Suku Non Tujuh atau Suku Mandahiling (Patriakat, bila adat diisi lembago dituang)

B. Adat Sumondo Perpatih Nan Sebatang ; Suku Andiko dengan Suku Andiko (Matriakat), Laki-laki Suku Mandahiling dengan Suku Non Tujuh (Matriakat).
C. Adat Jujuran; Suku Mandahiling menikah dengan sesamanya (Patriakat), Laki-laki Suku Non Tujuh dengan Suku Mandahiling (Patriakat).
D. Adat Tanam Batu ; Suku Andiko atau Suku Mandahiling dengan Bangsawan.
Adat Sumondo Luhak Rambah

Pra Langsung :
Laki-laki menyampaikan keinginan kepada Poibuannya, Jujuak, pembicaraan poibuan laki-laki dengan poibuan perempuan, Bokoba (minta ditongkan kepada mamak adat), Moanta tando cakap, Moulak Kato, Moanta Tando, Akad Nikah, Nikah Gantong, Sopokat Keluarga, Anta bolanjo (diluar adat)

Hari Langsung :
boinai, Bonceng, Borosah, Monyusun sirih, moukie pinang, buek bungkuih, Jopuik ponganten, Moarak ponganten, Monyambuik ponganten, Uluo jawek anta torimo, Jopuik monjopuik, Sorah torimo inang pongasuh, Menyaksikan isi tepak plembang, Koaie tomat kaji, koaie bosimbuo, Sombah monyombah, makan beradat, Timang kopa, Monobuih tepak tando, upah-upah, Sombah monyombah, Potaruh potakek, Solang pinjam.

Pasca Hari Langsung :
Pangilan suruik, Matrilokal selama 1 tahun.
Adat Jujuran di Luhak Rambah

Pra Hari Langsung :
Pihak keluarga kerumah perempuan membawa perlengkapan adat, Anta tando monjopuik perempuan secara adat, monjopuik perempuan untuk dibawa kerumah keluarga laki-laki dengan membawa perlengkapan adat, memberi kabar kepada pihak perempuan, anaknya sudah dibawa dengan maksud baik, membayar hutang sepanjang adat

Hari Langsung :
Prosesi hari langsung tidah jauh berbeda denga prosesi hari langsung adat sumondo.

Pasca Hari Langsung :
Disesuaikan dengan ketentuan adat persukuan pihak laki-laki
Adat Perkawinan Sumondo Di Luhak Rambah

Pra Hari Langsung :
Seorang laki-laki menyampaikan kepada orang dekat ibunya, bocinok-cinok, Monontukan anta timo tando, Anta torimo, Anta tando, Akad Nikah

Hari Langsung :
Monogak lasa, Malam Boinai, Bokundai, Khatam Kaji, Monjopuik Pengantin, Momutuih Obek, Bolimau, Mombukak Tabie, Timang Pengantin, Timang Suok, Kaik Kolingkiang, Turun Makan, Pulang Momulang, Upah-upah.

Pasca Hari Langsung :
Solang Monyolang, Utang Mamak ko Komonakan

Langi-langi Adat Perkawinan di Luhak Rokan IV Koto :

Pra Hari Langsung :
Seorang laki-laki menyampaikan kepada Barih amainya, Suluo-suluo aie, Sirieh tanyo, Anta tando, Akad Nikah.
Hari Langsung :
Persiapan kenduri (Bokampong kocik, memanggil mamak nan botigo, Bokampuang Besar, Mengampungkan Penghulu), Pelaksanaan kenduri (mengantar ayam khatan kaji, mengantar mempelai, Monjopuik Penganten, Penyambutan Penganten).
Pasca Hari Langsung :
Panggilan Suruik, Menanai Sijorah.
Adat Perkawinan di Luhak Kunto Darussalam :
Adat Somondo Mamanjo (Perpatih Nan Sebatang), untuk suku nan 34, Adat Ketemenggunagn untuk Bangsawan.

Adat Perkawinan Somondo di Luhak Kuntodarussalam

Pra Hari Langsung :
Seorang laki-laki yang ingin menikah menyampaikan kepada Abang iparnya, Istri abang iparnya, atau kepada ibunya, Suluoi-suluo aie, Menimang adat atau hukum, Pokay ninik mamak, Anta Tando, Akad Nikah

Hari Langsung :
Moanta penganten, Moarak Penganten, Penyambutan Penganten, Penyerahan Penganten, Membuka Tabie, Kato Peresmian, Kato Nasehat

Pasca Hari Langsung :
Monjolang Mamak, Menuruni rumah

Adat Perkawinan Sumondo di Luhak Tambusai :
Pra Hari Langsung :
Seorang laki-laki yang ingin berkeluarga menyampaikan hasratnya kepada bundainya, Suluo-suluo ayie, Bopori-pori kuluarga, Muburuk, Muanta Kato, Muanta Tando, Munontu Ari, Boinai.

Hari Langsung :
Monyompuik penganten, Penyambutan penganten, Bolimau koayie, ijab kabul, Duduk bosanding.
Sumber, Tim Penyelia Ahli, Al-Azhar dan T. Rafrizal
UPACARA ADAT UPAH-UPAH MASYARAKAT MELAYU di ROKAN HULU Erna Wahyuni/PBM/ F-B Upacara upah-upah adalah upacara adat di kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, yang bertujuan untuk mengembalikan Tondi kebadan. Tondi tersebut diyakini sebagai aspek kejiwaan manusia yang mempengaruhi semangat dan kematangan psikologis individu. 1. Asal-usul Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat yang ada di Rokan Hulu, provinsi Riau. Ditinjau dari tujuan pelaksanaan upah-upah, upacara adat tersebut mengembalikan tondi(semangat, spirit) kebadan seseorang atau beberapa orang melalui lantunan kata pemberi semangat dan nasihat.(Irwan efendy et al,2008) Pada dasarnya upacara adat upah-upah merupakan akulturasi budaya Tapanuli Selatan dan Riau. Letak geografis Rokan Hulu yang terletak di 00 25' 20 derajat LU – 010 25' 41 derajat LU dan 1000 02' 56 derajat – 1000 56' 59 derajat BT dengan luas 7.449,85 km2 cukup berdekatan dengan wilayah Sumatera Utara, yaitu berbatasan dengan kabupaten Tapanuli Selatan pada wilayah utara. Hal itu memicu perpindahan masyarakat Tapanuli Selatan ke wilayah Pasir Pengaraian untuk bermukim disana selama beberapa decade terakhir. Akhirnya perpindahan budaya tersebut menciptakan akulturasi budaya yang menarik. Produk budaya upacara adat upah-upah yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat pendatang dari Tapanuli Selatan dan berbaur dengan penduduk setempat mengakibatkan penerapan budaya upah-upah tetap lestari dan mengalami perubahan yang unik, baik dari sisi tata laksana maupun bahan-bahan yang digunakan. Akan tetapi tujuan utama dari upacara upah-upah yang saat ini telah menjadi bagian dari budaya Riau masih sama dengan upacara upah-upah yang ada di Tapanuli Selatan , yaitu mengembalikan tondi kebadan individu atau kelompok orang yang diberikan upah-upah. Inilah salah satu bukti keterbukaan masyarakat melayu Riau, khususnya masyarakat Rokan Hulu, terhadap masuknya budaya lain yang di anggap positif mempengaruhi kualitas pribadi dan kelompok mereka. Istilah tondi berasal dari wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara berpadan makna dengan beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang mencakup kata semangat, tenaga, dan kekuatan yang bersikap psikologis. Seiring dengan itu, beberapa pakar memiliki persamaan pendapat tentang pembahasan makna tondi ini. Pajung Bangun (dalam Koentjaraningrat, 2002) mengatakan tondi itu merupakan kekuatan yang member hidup pada bayi. Tondi merupakan kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang, kukuh, keras dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi dapat mengembara sesukanya dan bahkan boleh jadi bertemu dan bergabung dengan roh jahat. Dalam keadaan ketakutan yang mendadak misalnya diserang harimau di hutan, tondi juga bisa meninggalkan badan(Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993). Menurut Efendy et al. (2008:3), upacara adat upah-upah biasanya diiringi dengan kenduri kecil maupun besar yang diiringi dengan doa selamat. Berdasarkan fungsi dan tujuannya, upah-upah dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: 1. Upah-upah hajat tercapai, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena cita-cita, harapan, ataupun permintaan tercapai. Misalnya upah-upah kepada anak yang telah lulus sekolah atau telah mendapat pekerjaan. 2. Upah-upah sembuh sakit, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena harapan telah sembuh dari penyakit telah tercapai. Upah-upah seperti ini biasanya dilaksanakan oleh seseorang yang telah sembuh dari penyakit kronis tertentu. 3. Upah-upah selamat, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena selamat dalam suatu musibah alam atau gangguan orang. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang selamat dari musibah terhanyut dari sungai saat banjir besar. 4. Upah-upah khusus, yaitu upah-upah yang dilaksanakan seseorang melalui fase kehidupan tertentu. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang dikhitan, dinikahkan atau memangku suatu jabatan tertentu. Pada tahap pelaksanaan upacara upah-upah tersebut, diperlukan tata laksana, bahan-bahan dan peralatan tertentu yang memiliki simbol dan makna tertentu. 2. Peralatan dan Bahan-bahan bahan yang digunakan untuk menyusun perayaan upah-upah relative beragam, tergantung faktor daerah, budaya, dan orang yang menyusun dan menyampaikan hajat tersebujt. Kadang-kadang upah-upah yang dilaksanakan pada waktu yang sama dan kampung yang sama memiliki bahan penyhajian yang berbeda(Efendy et.al, 2008) Efendy mengatakan bahwa berdasarkan bahan yang digunakan dalam upacra upah-upah penyajian hidangan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu upah-upah biasa, upah-upah lengkap, dan upah-upah sangat lengkap. Tingkatan ini berkaitan dengan niat atau nazar yang telah diucapkan dan kemampuan yang mempunyai hajat, bukan didasarkan pada tujuan dan manfaatnya karena setiap upah-upah memiliki tujuan mengembalikan tondi ke badan. Berkaitan dengan pembagian tiga jenis bahan upah-upah ditinjau dari bahan yang digunakan, berikut ini adalah pemaparannya 1. Upah-upah biasa, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang telah di pais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur 2. Upah-upah lengkap, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selai kepala 3. Upah-upah sangat lengkap,. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selain kepala · Gulai kepala kerbau · Bagian-bagian tubuh kerbau lainnya yang dapat dimakan Contoh penyajian hidangan jenis upah-upah lengkap 3. Tata Laksana Efendy et al. (2008) menjelaskan tentang tata laksana upacara upah-upah mencakup rangkaian kegiatan berikut ini. 1. Semua hadirin, termasuk pelantun upah-upah yang lazim disebut si pengupah memasuki tempat pelaksanaan kegiatan. Umumnya mereka duduk membentuk lingkaran atau persegi panjang. Upacara biasanya diadakan di dalam ruangan atau dib alai-balai. 2. Kemudian orang yang akan di upah diminta duduk bersila ditengah-tengah lingkaran atau mengambil bagian lingkaran dengan menghadap para hadirin. 3. Bahan upah-upah yang telah dipersiapkan diletakan di depan orang yang aka di upah-upah dengan ditutup kain selendang. 4. Bila upah-upah masuk dalam perhelatan besar maka prosesinya dipimpin oleh seorang protocol. Namun apabila upacara ini dalam kategori kecil maka upacara akan dipimpin oleh si pelantun upah-upah. 5. Acara dibuka oleh protokol, kemudian orang yang punya rumah memberikan kata sambutan mengenai maksud diadakannya upah-upah ini. 6. Berikutnya adalah acara inti, yaitu penyampaian kalimat upah-upah. Si pengupah mengambil posisi duduk atau berdiri berhadapan dengan orang yang akan di upah, dan bahan upah-upah ada diantara mereka. Sambil berdiri si pengupah mengangkat talam atau wadah tempat upah-upah keatas kepala atau di depan orang yang akan di upah-upah. Namun apabila berupa upah-upah lengkap atau sangat lengkap cukupdibuka saja karena terlalu gelap untuk diangkat. 7. Terakhir, si pengupah melantunkan kata-kata upahannya. 4. Doa Doa dalam memberikan hidangan upah-upah berbentuk sajak atau bait-bait yang bermakna dan nilai sastra berupa metafora, pantun, dan nilai moral. Berikut ini adalah contoh bait doa dari pengupah yang dibacakan kepada orang yang di upah-upah(Efendy et al, 2008) Bismillahirrohmanirrohiim kami ucapkan Rahmat Allah senantiasa kita pintakan Menyampaikan niat serta hajat di dalam Itulah niat mengupah-upah anak menantu dambaan Sudah terselip dihati ibu dan ayah Menyampaikan niat melaksanakan upah-upah Niat terkandung lamalah sudah Baru sekarang beroleh izin Allah Maka pada hari ini ada hajat di dalam hati Ada niat yang belum terlaksanai Untuk mengupah-upah anak menantu kita ini Akan kita lepas kelautan lepas tiada bertepi Supaya mereka tidak melanggar pantang Supaya mereka tidak terlanda adat Supaya mereka tidak disia-siakan orang Upah-upah dilantunkan bekal tak tersukat Rumpunnya rindang si pohon tebu Rumput dedap dipenuhi benalu Kaum family yang duduk bersimpuh Ampun dan maaf karena pinta selalu Batang nipah rapi ditanamkan Nipah ditanam tambatan perahu Kata pengupah yang disampaikan Mengupah-upah anak serta menantu Nipah ditanam tambatan perahu Kerabat dating menyepuh bersih perunggu Mengupah anak serta menantu Selamatlah nian menempuh hidup baru 5. Nilai-nilai Ada banyak nilai yang terkandung dalam upacara adat upah-upah ini. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi ke badan) upacara upah-upah juga memiliki fungsi nasihat, doa dan harapan. Berikut adalah nilai-nilai yang dapat diambil dari setiap nilai dan manfaat dari upacara adat upah-upah(Efendy et al,2008) 1. Nasihat Nasihat secara khusus diberikan kepada orang yang di upah-upah. Selain itu para hadirin yang hadir turut serta dalam merasakan dampak dari nasihat tersebut. 2. Nilai doa Kata dalam upah-upah sarat dengan doa kepada Allah SWT. Doa tersebut berisi permohonan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan bagi orang yang di upah-upah, teman, dan para hadirin 3. Mempererat silaturahmi Persiapaan dan prosesi upah-upah sarat dengan gotong-royong sehingga memupuk sikap persaudaraan yang tinggi diantara anggota masyarakat. 4. Memupuk rasa syukur Dalam upacara upah-upah terkandung pula makna pemupukan rasa syukur, ingat dan tawakal kepada Allah SWT. 5. Pengembalian dan elaborasi spirit Upah-upah bermanfaat dan dapat dipahami secara ilmiah sebagai sugesti atau dorongan spiritual terhadap orang atau sekelompok orang. Dampaknya akan terlihat apabila peserta benar-benar mengerti, menghayati, serta merasa menjadi bagian dari upah-upah tersebut sehingga melahirkan semangat dalam mengarungi hidup. Berkaitan dengan pandangan diatas, salah satu penelitian pernah membuktikan dampak positif dari tradisi upah-upah terhadap pasangan pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat(2006), upacara adat upah-upah pada pasangan pernikahan di Tapanuli Selatan juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologis pada pasangan pernikahan atau pengantin. 6. Penutup Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat di Rokan Hulu, Provinsi Riau. Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan metafora yang bermakna doa, harapan dan nasihat terhadap orang atau sekelompok orang yang di upah-upah. Pelaksanaan upacara adat upah-upah memiliki banyak jenis, namun upah-upah memasuki hidup baru(diberikan kepada pasangan pernikahan) dilaksanakan untuk membangun rasa syukur, mempertahankan nilai-nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Setiap orang tua di Rokan Hulu selalu bercita-cita, berniat, dan bernazar untuk melaksanakan upacara adat upah-upah ini sejak sang anak masih kecil. Tujuan utama dari upacara upah-upah ini adalah untuk meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan Allah SWT kepada para keluarga.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
UPACARA ADAT UPAH-UPAH MASYARAKAT MELAYU di ROKAN HULU Erna Wahyuni/PBM/ F-B Upacara upah-upah adalah upacara adat di kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, yang bertujuan untuk mengembalikan Tondi kebadan. Tondi tersebut diyakini sebagai aspek kejiwaan manusia yang mempengaruhi semangat dan kematangan psikologis individu. 1. Asal-usul Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat yang ada di Rokan Hulu, provinsi Riau. Ditinjau dari tujuan pelaksanaan upah-upah, upacara adat tersebut mengembalikan tondi(semangat, spirit) kebadan seseorang atau beberapa orang melalui lantunan kata pemberi semangat dan nasihat.(Irwan efendy et al,2008) Pada dasarnya upacara adat upah-upah merupakan akulturasi budaya Tapanuli Selatan dan Riau. Letak geografis Rokan Hulu yang terletak di 00 25' 20 derajat LU – 010 25' 41 derajat LU dan 1000 02' 56 derajat – 1000 56' 59 derajat BT dengan luas 7.449,85 km2 cukup berdekatan dengan wilayah Sumatera Utara, yaitu berbatasan dengan kabupaten Tapanuli Selatan pada wilayah utara. Hal itu memicu perpindahan masyarakat Tapanuli Selatan ke wilayah Pasir Pengaraian untuk bermukim disana selama beberapa decade terakhir. Akhirnya perpindahan budaya tersebut menciptakan akulturasi budaya yang menarik. Produk budaya upacara adat upah-upah yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat pendatang dari Tapanuli Selatan dan berbaur dengan penduduk setempat mengakibatkan penerapan budaya upah-upah tetap lestari dan mengalami perubahan yang unik, baik dari sisi tata laksana maupun bahan-bahan yang digunakan. Akan tetapi tujuan utama dari upacara upah-upah yang saat ini telah menjadi bagian dari budaya Riau masih sama dengan upacara upah-upah yang ada di Tapanuli Selatan , yaitu mengembalikan tondi kebadan individu atau kelompok orang yang diberikan upah-upah. Inilah salah satu bukti keterbukaan masyarakat melayu Riau, khususnya masyarakat Rokan Hulu, terhadap masuknya budaya lain yang di anggap positif mempengaruhi kualitas pribadi dan kelompok mereka. Istilah tondi berasal dari wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara berpadan makna dengan beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang mencakup kata semangat, tenaga, dan kekuatan yang bersikap psikologis. Seiring dengan itu, beberapa pakar memiliki persamaan pendapat tentang pembahasan makna tondi ini. Pajung Bangun (dalam Koentjaraningrat, 2002) mengatakan tondi itu merupakan kekuatan yang member hidup pada bayi. Tondi merupakan kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang, kukuh, keras dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi dapat mengembara sesukanya dan bahkan boleh jadi bertemu dan bergabung dengan roh jahat. Dalam keadaan ketakutan yang mendadak misalnya diserang harimau di hutan, tondi juga bisa meninggalkan badan(Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993). Menurut Efendy et al. (2008:3), upacara adat upah-upah biasanya diiringi dengan kenduri kecil maupun besar yang diiringi dengan doa selamat. Berdasarkan fungsi dan tujuannya, upah-upah dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: 1. Upah-upah hajat tercapai, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena cita-cita, harapan, ataupun permintaan tercapai. Misalnya upah-upah kepada anak yang telah lulus sekolah atau telah mendapat pekerjaan. 2. Upah-upah sembuh sakit, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena harapan telah sembuh dari penyakit telah tercapai. Upah-upah seperti ini biasanya dilaksanakan oleh seseorang yang telah sembuh dari penyakit kronis tertentu. 3. Upah-upah selamat, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena selamat dalam suatu musibah alam atau gangguan orang. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang selamat dari musibah terhanyut dari sungai saat banjir besar. 4. Upah-upah khusus, yaitu upah-upah yang dilaksanakan seseorang melalui fase kehidupan tertentu. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang dikhitan, dinikahkan atau memangku suatu jabatan tertentu. Pada tahap pelaksanaan upacara upah-upah tersebut, diperlukan tata laksana, bahan-bahan dan peralatan tertentu yang memiliki simbol dan makna tertentu. 2. Peralatan dan Bahan-bahan bahan yang digunakan untuk menyusun perayaan upah-upah relative beragam, tergantung faktor daerah, budaya, dan orang yang menyusun dan menyampaikan hajat tersebujt. Kadang-kadang upah-upah yang dilaksanakan pada waktu yang sama dan kampung yang sama memiliki bahan penyhajian yang berbeda(Efendy et.al, 2008) Efendy mengatakan bahwa berdasarkan bahan yang digunakan dalam upacra upah-upah penyajian hidangan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu upah-upah biasa, upah-upah lengkap, dan upah-upah sangat lengkap. Tingkatan ini berkaitan dengan niat atau nazar yang telah diucapkan dan kemampuan yang mempunyai hajat, bukan didasarkan pada tujuan dan manfaatnya karena setiap upah-upah memiliki tujuan mengembalikan tondi ke badan. Berkaitan dengan pembagian tiga jenis bahan upah-upah ditinjau dari bahan yang digunakan, berikut ini adalah pemaparannya 1. Upah-upah biasa, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang telah di pais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur 2. Upah-upah lengkap, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selai kepala 3. Upah-upah sangat lengkap,. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selain kepala · Gulai kepala kerbau · Bagian-bagian tubuh kerbau lainnya yang dapat dimakan Contoh penyajian hidangan jenis upah-upah lengkap 3. Tata Laksana Efendy et al. (2008) menjelaskan tentang tata laksana upacara upah-upah mencakup rangkaian kegiatan berikut ini. 1. Semua hadirin, termasuk pelantun upah-upah yang lazim disebut si pengupah memasuki tempat pelaksanaan kegiatan. Umumnya mereka duduk membentuk lingkaran atau persegi panjang. Upacara biasanya diadakan di dalam ruangan atau dib alai-balai. 2. Kemudian orang yang akan di upah diminta duduk bersila ditengah-tengah lingkaran atau mengambil bagian lingkaran dengan menghadap para hadirin. 3. Bahan upah-upah yang telah dipersiapkan diletakan di depan orang yang aka di upah-upah dengan ditutup kain selendang. 4. Bila upah-upah masuk dalam perhelatan besar maka prosesinya dipimpin oleh seorang protocol. Namun apabila upacara ini dalam kategori kecil maka upacara akan dipimpin oleh si pelantun upah-upah. 5. Acara dibuka oleh protokol, kemudian orang yang punya rumah memberikan kata sambutan mengenai maksud diadakannya upah-upah ini. 6. Berikutnya adalah acara inti, yaitu penyampaian kalimat upah-upah. Si pengupah mengambil posisi duduk atau berdiri berhadapan dengan orang yang akan di upah, dan bahan upah-upah ada diantara mereka. Sambil berdiri si pengupah mengangkat talam atau wadah tempat upah-upah keatas kepala atau di depan orang yang akan di upah-upah. Namun apabila berupa upah-upah lengkap atau sangat lengkap cukupdibuka saja karena terlalu gelap untuk diangkat. 7. Terakhir, si pengupah melantunkan kata-kata upahannya. 4. Doa Doa dalam memberikan hidangan upah-upah berbentuk sajak atau bait-bait yang bermakna dan nilai sastra berupa metafora, pantun, dan nilai moral. Berikut ini adalah contoh bait doa dari pengupah yang dibacakan kepada orang yang di upah-upah(Efendy et al, 2008) Bismillahirrohmanirrohiim kami ucapkan Rahmat Allah senantiasa kita pintakan Menyampaikan niat serta hajat di dalam Itulah niat mengupah-upah anak menantu dambaan Sudah terselip dihati ibu dan ayah Menyampaikan niat melaksanakan upah-upah Niat terkandung lamalah sudah Baru sekarang beroleh izin Allah Maka pada hari ini ada hajat di dalam hati Ada niat yang belum terlaksanai Untuk mengupah-upah anak menantu kita ini Akan kita lepas kelautan lepas tiada bertepi Supaya mereka tidak melanggar pantang Supaya mereka tidak terlanda adat Supaya mereka tidak disia-siakan orang Upah-upah dilantunkan bekal tak tersukat Rumpunnya rindang si pohon tebu Rumput dedap dipenuhi benalu Kaum family yang duduk bersimpuh Ampun dan maaf karena pinta selalu Batang nipah rapi ditanamkan Nipah ditanam tambatan perahu Kata pengupah yang disampaikan Mengupah-upah anak serta menantu Nipah ditanam tambatan perahu Kerabat dating menyepuh bersih perunggu Mengupah anak serta menantu Selamatlah nian menempuh hidup baru 5. Nilai-nilai Ada banyak nilai yang terkandung dalam upacara adat upah-upah ini. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi ke badan) upacara upah-upah juga memiliki fungsi nasihat, doa dan harapan. Berikut adalah nilai-nilai yang dapat diambil dari setiap nilai dan manfaat dari upacara adat upah-upah(Efendy et al,2008) 1. Nasihat Nasihat secara khusus diberikan kepada orang yang di upah-upah. Selain itu para hadirin yang hadir turut serta dalam merasakan dampak dari nasihat tersebut. 2. Nilai doa Kata dalam upah-upah sarat dengan doa kepada Allah SWT. Doa tersebut berisi permohonan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan bagi orang yang di upah-upah, teman, dan para hadirin 3. Mempererat silaturahmi Persiapaan dan prosesi upah-upah sarat dengan gotong-royong sehingga memupuk sikap persaudaraan yang tinggi diantara anggota masyarakat. 4. Memupuk rasa syukur Dalam upacara upah-upah terkandung pula makna pemupukan rasa syukur, ingat dan tawakal kepada Allah SWT. 5. Pengembalian dan elaborasi spirit Upah-upah bermanfaat dan dapat dipahami secara ilmiah sebagai sugesti atau dorongan spiritual terhadap orang atau sekelompok orang. Dampaknya akan terlihat apabila peserta benar-benar mengerti, menghayati, serta merasa menjadi bagian dari upah-upah tersebut sehingga melahirkan semangat dalam mengarungi hidup. Berkaitan dengan pandangan diatas, salah satu penelitian pernah membuktikan dampak positif dari tradisi upah-upah terhadap pasangan pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat(2006), upacara adat upah-upah pada pasangan pernikahan di Tapanuli Selatan juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologis pada pasangan pernikahan atau pengantin. 6. Penutup Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat di Rokan Hulu, Provinsi Riau. Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan metafora yang bermakna doa, harapan dan nasihat terhadap orang atau sekelompok orang yang di upah-upah. Pelaksanaan upacara adat upah-upah memiliki banyak jenis, namun upah-upah memasuki hidup baru(diberikan kepada pasangan pernikahan) dilaksanakan untuk membangun rasa syukur, mempertahankan nilai-nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Setiap orang tua di Rokan Hulu selalu bercita-cita, berniat, dan bernazar untuk melaksanakan upacara adat upah-upah ini sejak sang anak masih kecil. Tujuan utama dari upacara upah-upah ini adalah untuk meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan Allah SWT kepada para keluarga.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
UPACARA ADAT UPAH-UPAH MASYARAKAT MELAYU di ROKAN HULU Erna Wahyuni/PBM/ F-B Upacara upah-upah adalah upacara adat di kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, yang bertujuan untuk mengembalikan Tondi kebadan. Tondi tersebut diyakini sebagai aspek kejiwaan manusia yang mempengaruhi semangat dan kematangan psikologis individu. 1. Asal-usul Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat yang ada di Rokan Hulu, provinsi Riau. Ditinjau dari tujuan pelaksanaan upah-upah, upacara adat tersebut mengembalikan tondi(semangat, spirit) kebadan seseorang atau beberapa orang melalui lantunan kata pemberi semangat dan nasihat.(Irwan efendy et al,2008) Pada dasarnya upacara adat upah-upah merupakan akulturasi budaya Tapanuli Selatan dan Riau. Letak geografis Rokan Hulu yang terletak di 00 25' 20 derajat LU – 010 25' 41 derajat LU dan 1000 02' 56 derajat – 1000 56' 59 derajat BT dengan luas 7.449,85 km2 cukup berdekatan dengan wilayah Sumatera Utara, yaitu berbatasan dengan kabupaten Tapanuli Selatan pada wilayah utara. Hal itu memicu perpindahan masyarakat Tapanuli Selatan ke wilayah Pasir Pengaraian untuk bermukim disana selama beberapa decade terakhir. Akhirnya perpindahan budaya tersebut menciptakan akulturasi budaya yang menarik. Produk budaya upacara adat upah-upah yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat pendatang dari Tapanuli Selatan dan berbaur dengan penduduk setempat mengakibatkan penerapan budaya upah-upah tetap lestari dan mengalami perubahan yang unik, baik dari sisi tata laksana maupun bahan-bahan yang digunakan. Akan tetapi tujuan utama dari upacara upah-upah yang saat ini telah menjadi bagian dari budaya Riau masih sama dengan upacara upah-upah yang ada di Tapanuli Selatan , yaitu mengembalikan tondi kebadan individu atau kelompok orang yang diberikan upah-upah. Inilah salah satu bukti keterbukaan masyarakat melayu Riau, khususnya masyarakat Rokan Hulu, terhadap masuknya budaya lain yang di anggap positif mempengaruhi kualitas pribadi dan kelompok mereka. Istilah tondi berasal dari wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara berpadan makna dengan beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang mencakup kata semangat, tenaga, dan kekuatan yang bersikap psikologis. Seiring dengan itu, beberapa pakar memiliki persamaan pendapat tentang pembahasan makna tondi ini. Pajung Bangun (dalam Koentjaraningrat, 2002) mengatakan tondi itu merupakan kekuatan yang member hidup pada bayi. Tondi merupakan kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang, kukuh, keras dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi dapat mengembara sesukanya dan bahkan boleh jadi bertemu dan bergabung dengan roh jahat. Dalam keadaan ketakutan yang mendadak misalnya diserang harimau di hutan, tondi juga bisa meninggalkan badan(Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993). Menurut Efendy et al. (2008:3), upacara adat upah-upah biasanya diiringi dengan kenduri kecil maupun besar yang diiringi dengan doa selamat. Berdasarkan fungsi dan tujuannya, upah-upah dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: 1. Upah-upah hajat tercapai, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena cita-cita, harapan, ataupun permintaan tercapai. Misalnya upah-upah kepada anak yang telah lulus sekolah atau telah mendapat pekerjaan. 2. Upah-upah sembuh sakit, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena harapan telah sembuh dari penyakit telah tercapai. Upah-upah seperti ini biasanya dilaksanakan oleh seseorang yang telah sembuh dari penyakit kronis tertentu. 3. Upah-upah selamat, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena selamat dalam suatu musibah alam atau gangguan orang. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang selamat dari musibah terhanyut dari sungai saat banjir besar. 4. Upah-upah khusus, yaitu upah-upah yang dilaksanakan seseorang melalui fase kehidupan tertentu. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang dikhitan, dinikahkan atau memangku suatu jabatan tertentu. Pada tahap pelaksanaan upacara upah-upah tersebut, diperlukan tata laksana, bahan-bahan dan peralatan tertentu yang memiliki simbol dan makna tertentu. 2. Peralatan dan Bahan-bahan bahan yang digunakan untuk menyusun perayaan upah-upah relative beragam, tergantung faktor daerah, budaya, dan orang yang menyusun dan menyampaikan hajat tersebujt. Kadang-kadang upah-upah yang dilaksanakan pada waktu yang sama dan kampung yang sama memiliki bahan penyhajian yang berbeda(Efendy et.al, 2008) Efendy mengatakan bahwa berdasarkan bahan yang digunakan dalam upacra upah-upah penyajian hidangan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu upah-upah biasa, upah-upah lengkap, dan upah-upah sangat lengkap. Tingkatan ini berkaitan dengan niat atau nazar yang telah diucapkan dan kemampuan yang mempunyai hajat, bukan didasarkan pada tujuan dan manfaatnya karena setiap upah-upah memiliki tujuan mengembalikan tondi ke badan. Berkaitan dengan pembagian tiga jenis bahan upah-upah ditinjau dari bahan yang digunakan, berikut ini adalah pemaparannya 1. Upah-upah biasa, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang telah di pais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur 2. Upah-upah lengkap, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selai kepala 3. Upah-upah sangat lengkap,. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selain kepala · Gulai kepala kerbau · Bagian-bagian tubuh kerbau lainnya yang dapat dimakan Contoh penyajian hidangan jenis upah-upah lengkap 3. Tata Laksana Efendy et al. (2008) menjelaskan tentang tata laksana upacara upah-upah mencakup rangkaian kegiatan berikut ini. 1. Semua hadirin, termasuk pelantun upah-upah yang lazim disebut si pengupah memasuki tempat pelaksanaan kegiatan. Umumnya mereka duduk membentuk lingkaran atau persegi panjang. Upacara biasanya diadakan di dalam ruangan atau dib alai-balai. 2. Kemudian orang yang akan di upah diminta duduk bersila ditengah-tengah lingkaran atau mengambil bagian lingkaran dengan menghadap para hadirin. 3. Bahan upah-upah yang telah dipersiapkan diletakan di depan orang yang aka di upah-upah dengan ditutup kain selendang. 4. Bila upah-upah masuk dalam perhelatan besar maka prosesinya dipimpin oleh seorang protocol. Namun apabila upacara ini dalam kategori kecil maka upacara akan dipimpin oleh si pelantun upah-upah. 5. Acara dibuka oleh protokol, kemudian orang yang punya rumah memberikan kata sambutan mengenai maksud diadakannya upah-upah ini. 6. Berikutnya adalah acara inti, yaitu penyampaian kalimat upah-upah. Si pengupah mengambil posisi duduk atau berdiri berhadapan dengan orang yang akan di upah, dan bahan upah-upah ada diantara mereka. Sambil berdiri si pengupah mengangkat talam atau wadah tempat upah-upah keatas kepala atau di depan orang yang akan di upah-upah. Namun apabila berupa upah-upah lengkap atau sangat lengkap cukupdibuka saja karena terlalu gelap untuk diangkat. 7. Terakhir, si pengupah melantunkan kata-kata upahannya. 4. Doa Doa dalam memberikan hidangan upah-upah berbentuk sajak atau bait-bait yang bermakna dan nilai sastra berupa metafora, pantun, dan nilai moral. Berikut ini adalah contoh bait doa dari pengupah yang dibacakan kepada orang yang di upah-upah(Efendy et al, 2008) Bismillahirrohmanirrohiim kami ucapkan Rahmat Allah senantiasa kita pintakan Menyampaikan niat serta hajat di dalam Itulah niat mengupah-upah anak menantu dambaan Sudah terselip dihati ibu dan ayah Menyampaikan niat melaksanakan upah-upah Niat terkandung lamalah sudah Baru sekarang beroleh izin Allah Maka pada hari ini ada hajat di dalam hati Ada niat yang belum terlaksanai Untuk mengupah-upah anak menantu kita ini Akan kita lepas kelautan lepas tiada bertepi Supaya mereka tidak melanggar pantang Supaya mereka tidak terlanda adat Supaya mereka tidak disia-siakan orang Upah-upah dilantunkan bekal tak tersukat Rumpunnya rindang si pohon tebu Rumput dedap dipenuhi benalu Kaum family yang duduk bersimpuh Ampun dan maaf karena pinta selalu Batang nipah rapi ditanamkan Nipah ditanam tambatan perahu Kata pengupah yang disampaikan Mengupah-upah anak serta menantu Nipah ditanam tambatan perahu Kerabat dating menyepuh bersih perunggu Mengupah anak serta menantu Selamatlah nian menempuh hidup baru 5. Nilai-nilai Ada banyak nilai yang terkandung dalam upacara adat upah-upah ini. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi ke badan) upacara upah-upah juga memiliki fungsi nasihat, doa dan harapan. Berikut adalah nilai-nilai yang dapat diambil dari setiap nilai dan manfaat dari upacara adat upah-upah(Efendy et al,2008) 1. Nasihat Nasihat secara khusus diberikan kepada orang yang di upah-upah. Selain itu para hadirin yang hadir turut serta dalam merasakan dampak dari nasihat tersebut. 2. Nilai doa Kata dalam upah-upah sarat dengan doa kepada Allah SWT. Doa tersebut berisi permohonan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan bagi orang yang di upah-upah, teman, dan para hadirin 3. Mempererat silaturahmi Persiapaan dan prosesi upah-upah sarat dengan gotong-royong sehingga memupuk sikap persaudaraan yang tinggi diantara anggota masyarakat. 4. Memupuk rasa syukur Dalam upacara upah-upah terkandung pula makna pemupukan rasa syukur, ingat dan tawakal kepada Allah SWT. 5. Pengembalian dan elaborasi spirit Upah-upah bermanfaat dan dapat dipahami secara ilmiah sebagai sugesti atau dorongan spiritual terhadap orang atau sekelompok orang. Dampaknya akan terlihat apabila peserta benar-benar mengerti, menghayati, serta merasa menjadi bagian dari upah-upah tersebut sehingga melahirkan semangat dalam mengarungi hidup. Berkaitan dengan pandangan diatas, salah satu penelitian pernah membuktikan dampak positif dari tradisi upah-upah terhadap pasangan pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat(2006), upacara adat upah-upah pada pasangan pernikahan di Tapanuli Selatan juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologis pada pasangan pernikahan atau pengantin. 6. Penutup Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat di Rokan Hulu, Provinsi Riau. Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan metafora yang bermakna doa, harapan dan nasihat terhadap orang atau sekelompok orang yang di upah-upah. Pelaksanaan upacara adat upah-upah memiliki banyak jenis, namun upah-upah memasuki hidup baru(diberikan kepada pasangan pernikahan) dilaksanakan untuk membangun rasa syukur, mempertahankan nilai-nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Setiap orang tua di Rokan Hulu selalu bercita-cita, berniat, dan bernazar untuk melaksanakan upacara adat upah-upah ini sejak sang anak masih kecil. Tujuan utama dari upacara upah-upah ini adalah untuk meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan Allah SWT kepada para keluarga.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
UPACARA ADAT UPAH-UPAH MASYARAKAT MELAYU di ROKAN HULU Erna Wahyuni/PBM/ F-B Upacara upah-upah adalah upacara adat di kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, yang bertujuan untuk mengembalikan Tondi kebadan. Tondi tersebut diyakini sebagai aspek kejiwaan manusia yang mempengaruhi semangat dan kematangan psikologis individu. 1. Asal-usul Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat yang ada di Rokan Hulu, provinsi Riau. Ditinjau dari tujuan pelaksanaan upah-upah, upacara adat tersebut mengembalikan tondi(semangat, spirit) kebadan seseorang atau beberapa orang melalui lantunan kata pemberi semangat dan nasihat.(Irwan efendy et al,2008) Pada dasarnya upacara adat upah-upah merupakan akulturasi budaya Tapanuli Selatan dan Riau. Letak geografis Rokan Hulu yang terletak di 00 25' 20 derajat LU – 010 25' 41 derajat LU dan 1000 02' 56 derajat – 1000 56' 59 derajat BT dengan luas 7.449,85 km2 cukup berdekatan dengan wilayah Sumatera Utara, yaitu berbatasan dengan kabupaten Tapanuli Selatan pada wilayah utara. Hal itu memicu perpindahan masyarakat Tapanuli Selatan ke wilayah Pasir Pengaraian untuk bermukim disana selama beberapa decade terakhir. Akhirnya perpindahan budaya tersebut menciptakan akulturasi budaya yang menarik. Produk budaya upacara adat upah-upah yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat pendatang dari Tapanuli Selatan dan berbaur dengan penduduk setempat mengakibatkan penerapan budaya upah-upah tetap lestari dan mengalami perubahan yang unik, baik dari sisi tata laksana maupun bahan-bahan yang digunakan. Akan tetapi tujuan utama dari upacara upah-upah yang saat ini telah menjadi bagian dari budaya Riau masih sama dengan upacara upah-upah yang ada di Tapanuli Selatan , yaitu mengembalikan tondi kebadan individu atau kelompok orang yang diberikan upah-upah. Inilah salah satu bukti keterbukaan masyarakat melayu Riau, khususnya masyarakat Rokan Hulu, terhadap masuknya budaya lain yang di anggap positif mempengaruhi kualitas pribadi dan kelompok mereka. Istilah tondi berasal dari wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara berpadan makna dengan beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang mencakup kata semangat, tenaga, dan kekuatan yang bersikap psikologis. Seiring dengan itu, beberapa pakar memiliki persamaan pendapat tentang pembahasan makna tondi ini. Pajung Bangun (dalam Koentjaraningrat, 2002) mengatakan tondi itu merupakan kekuatan yang member hidup pada bayi. Tondi merupakan kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang, kukuh, keras dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi dapat mengembara sesukanya dan bahkan boleh jadi bertemu dan bergabung dengan roh jahat. Dalam keadaan ketakutan yang mendadak misalnya diserang harimau di hutan, tondi juga bisa meninggalkan badan(Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993). Menurut Efendy et al. (2008:3), upacara adat upah-upah biasanya diiringi dengan kenduri kecil maupun besar yang diiringi dengan doa selamat. Berdasarkan fungsi dan tujuannya, upah-upah dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: 1. Upah-upah hajat tercapai, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena cita-cita, harapan, ataupun permintaan tercapai. Misalnya upah-upah kepada anak yang telah lulus sekolah atau telah mendapat pekerjaan. 2. Upah-upah sembuh sakit, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena harapan telah sembuh dari penyakit telah tercapai. Upah-upah seperti ini biasanya dilaksanakan oleh seseorang yang telah sembuh dari penyakit kronis tertentu. 3. Upah-upah selamat, yaitu upah-upah yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur karena selamat dalam suatu musibah alam atau gangguan orang. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang selamat dari musibah terhanyut dari sungai saat banjir besar. 4. Upah-upah khusus, yaitu upah-upah yang dilaksanakan seseorang melalui fase kehidupan tertentu. Misalnya upah-upah bagi seseorang yang dikhitan, dinikahkan atau memangku suatu jabatan tertentu. Pada tahap pelaksanaan upacara upah-upah tersebut, diperlukan tata laksana, bahan-bahan dan peralatan tertentu yang memiliki simbol dan makna tertentu. 2. Peralatan dan Bahan-bahan bahan yang digunakan untuk menyusun perayaan upah-upah relative beragam, tergantung faktor daerah, budaya, dan orang yang menyusun dan menyampaikan hajat tersebujt. Kadang-kadang upah-upah yang dilaksanakan pada waktu yang sama dan kampung yang sama memiliki bahan penyhajian yang berbeda(Efendy et.al, 2008) Efendy mengatakan bahwa berdasarkan bahan yang digunakan dalam upacra upah-upah penyajian hidangan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu upah-upah biasa, upah-upah lengkap, dan upah-upah sangat lengkap. Tingkatan ini berkaitan dengan niat atau nazar yang telah diucapkan dan kemampuan yang mempunyai hajat, bukan didasarkan pada tujuan dan manfaatnya karena setiap upah-upah memiliki tujuan mengembalikan tondi ke badan. Berkaitan dengan pembagian tiga jenis bahan upah-upah ditinjau dari bahan yang digunakan, berikut ini adalah pemaparannya 1. Upah-upah biasa, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang telah di pais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur 2. Upah-upah lengkap, bahan-bahannya adalah sebagai berikut. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selai kepala 3. Upah-upah sangat lengkap,. · Ayam panggang · Hati ayam yang dipanggang · Telur ayam rebus yang telah dikupas · Udang yang dipais/direbus/digoreng · Beras kunyit · Nasi pulut kunyit · Sayur-mayur · Gulai kepala kambing · Bagian-bagian kambing yang dapat dimakan selain kepala · Gulai kepala kerbau · Bagian-bagian tubuh kerbau lainnya yang dapat dimakan Contoh penyajian hidangan jenis upah-upah lengkap 3. Tata Laksana Efendy et al. (2008) menjelaskan tentang tata laksana upacara upah-upah mencakup rangkaian kegiatan berikut ini. 1. Semua hadirin, termasuk pelantun upah-upah yang lazim disebut si pengupah memasuki tempat pelaksanaan kegiatan. Umumnya mereka duduk membentuk lingkaran atau persegi panjang. Upacara biasanya diadakan di dalam ruangan atau dib alai-balai. 2. Kemudian orang yang akan di upah diminta duduk bersila ditengah-tengah lingkaran atau mengambil bagian lingkaran dengan menghadap para hadirin. 3. Bahan upah-upah yang telah dipersiapkan diletakan di depan orang yang aka di upah-upah dengan ditutup kain selendang. 4. Bila upah-upah masuk dalam perhelatan besar maka prosesinya dipimpin oleh seorang protocol. Namun apabila upacara ini dalam kategori kecil maka upacara akan dipimpin oleh si pelantun upah-upah. 5. Acara dibuka oleh protokol, kemudian orang yang punya rumah memberikan kata sambutan mengenai maksud diadakannya upah-upah ini. 6. Berikutnya adalah acara inti, yaitu penyampaian kalimat upah-upah. Si pengupah mengambil posisi duduk atau berdiri berhadapan dengan orang yang akan di upah, dan bahan upah-upah ada diantara mereka. Sambil berdiri si pengupah mengangkat talam atau wadah tempat upah-upah keatas kepala atau di depan orang yang akan di upah-upah. Namun apabila berupa upah-upah lengkap atau sangat lengkap cukupdibuka saja karena terlalu gelap untuk diangkat. 7. Terakhir, si pengupah melantunkan kata-kata upahannya. 4. Doa Doa dalam memberikan hidangan upah-upah berbentuk sajak atau bait-bait yang bermakna dan nilai sastra berupa metafora, pantun, dan nilai moral. Berikut ini adalah contoh bait doa dari pengupah yang dibacakan kepada orang yang di upah-upah(Efendy et al, 2008) Bismillahirrohmanirrohiim kami ucapkan Rahmat Allah senantiasa kita pintakan Menyampaikan niat serta hajat di dalam Itulah niat mengupah-upah anak menantu dambaan Sudah terselip dihati ibu dan ayah Menyampaikan niat melaksanakan upah-upah Niat terkandung lamalah sudah Baru sekarang beroleh izin Allah Maka pada hari ini ada hajat di dalam hati Ada niat yang belum terlaksanai Untuk mengupah-upah anak menantu kita ini Akan kita lepas kelautan lepas tiada bertepi Supaya mereka tidak melanggar pantang Supaya mereka tidak terlanda adat Supaya mereka tidak disia-siakan orang Upah-upah dilantunkan bekal tak tersukat Rumpunnya rindang si pohon tebu Rumput dedap dipenuhi benalu Kaum family yang duduk bersimpuh Ampun dan maaf karena pinta selalu Batang nipah rapi ditanamkan Nipah ditanam tambatan perahu Kata pengupah yang disampaikan Mengupah-upah anak serta menantu Nipah ditanam tambatan perahu Kerabat dating menyepuh bersih perunggu Mengupah anak serta menantu Selamatlah nian menempuh hidup baru 5. Nilai-nilai Ada banyak nilai yang terkandung dalam upacara adat upah-upah ini. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi ke badan) upacara upah-upah juga memiliki fungsi nasihat, doa dan harapan. Berikut adalah nilai-nilai yang dapat diambil dari setiap nilai dan manfaat dari upacara adat upah-upah(Efendy et al,2008) 1. Nasihat Nasihat secara khusus diberikan kepada orang yang di upah-upah. Selain itu para hadirin yang hadir turut serta dalam merasakan dampak dari nasihat tersebut. 2. Nilai doa Kata dalam upah-upah sarat dengan doa kepada Allah SWT. Doa tersebut berisi permohonan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan bagi orang yang di upah-upah, teman, dan para hadirin 3. Mempererat silaturahmi Persiapaan dan prosesi upah-upah sarat dengan gotong-royong sehingga memupuk sikap persaudaraan yang tinggi diantara anggota masyarakat. 4. Memupuk rasa syukur Dalam upacara upah-upah terkandung pula makna pemupukan rasa syukur, ingat dan tawakal kepada Allah SWT. 5. Pengembalian dan elaborasi spirit Upah-upah bermanfaat dan dapat dipahami secara ilmiah sebagai sugesti atau dorongan spiritual terhadap orang atau sekelompok orang. Dampaknya akan terlihat apabila peserta benar-benar mengerti, menghayati, serta merasa menjadi bagian dari upah-upah tersebut sehingga melahirkan semangat dalam mengarungi hidup. Berkaitan dengan pandangan diatas, salah satu penelitian pernah membuktikan dampak positif dari tradisi upah-upah terhadap pasangan pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat(2006), upacara adat upah-upah pada pasangan pernikahan di Tapanuli Selatan juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologis pada pasangan pernikahan atau pengantin. 6. Penutup Upacara adat upah-upah adalah salah satu upacara adat di Rokan Hulu, Provinsi Riau. Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan metafora yang bermakna doa, harapan dan nasihat terhadap orang atau sekelompok orang yang di upah-upah. Pelaksanaan upacara adat upah-upah memiliki banyak jenis, namun upah-upah memasuki hidup baru(diberikan kepada pasangan pernikahan) dilaksanakan untuk membangun rasa syukur, mempertahankan nilai-nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Setiap orang tua di Rokan Hulu selalu bercita-cita, berniat, dan bernazar untuk melaksanakan upacara adat upah-upah ini sejak sang anak masih kecil. Tujuan utama dari upacara upah-upah ini adalah untuk meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan Allah SWT kepada para keluarga.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu